Artikel Terkini Klik disini untuk Berlangganan Gratis Via Email

Info Event Vespa Agustus-Desember 2013

Inilah Info Event Vespa yang akan dilaksanakan di Jawa-Bali. Jika ada Event yang belum masuk pada informasi ini, mohon bisa melengkapinya dengan memberikan komentar atau mengirim email ke tersingelisasi@gmail.com. Hal itu juga berlaku pada informasi perubahan tanggal maupun tempat event yang ada di bawah ini.



31 Ags-1 Sep Ciwidey-Bandung Sltn SIG
7-8 Sept di BanjarNegara & Jembrana Bali
2-3 Sept Sukoharjo SSC
14-15 Sept Sari Ater-Subang Jabar NEW BLACK SCOOTER INDONASIA (NBSI)
21-22 Sept Semarang
5-6 Okt Cianjur SOCC
2-3 Nov Pekalongan
16-17 Nov VSP Surabaya
23-24 Nov Padangan Bojonegoro
7-8 Des Jepara JSR 8

Sisi Lain Raja Ampat, Papua


Raja Ampat adalah sebuah kabupaten yang terletak di  propinsi Papua Barat. Daerah ini sangat terkenal dengan wisata baharinya yang sangat indah dan mengagumkan. Sejak 2005 kepulauan yang biasa disebut Waisai oleh masyarakatnya ini telah definitif masuk menjadi wilayah pemekaran yang semula menginduk ke kota Sorong. Pemekaran terasa lebih baik sebagai upaya pengembangan daerah yang memang terlalu jauh untuk mengurus berbagai administrasi ke kota Sorong yang waktu tempuh ke sana bisa mencapai 4-5 jam jika menggunakan kapal penyeberangan, atau 2-3 jam kalau memakai speedboat.
Sementara hingga saat ini hanya ada 2 kapal  yang melayani penyeberangan Waisai - Sorong pulang  pergi. Setelah beberapa tahun menjadi kabupaten baru, Raja Ampat makin populer sebagai kawasan wisata bahari. Tidak hanya dikalangan wisatawan Indonesia tapi hingga mancanegara. Keindahan alam pesisir, kepulauan dan alam bawah laut telah menarik begitu banyak pelancong ke sana.
Tapi rupanya kepopuleran Raja Ampat tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan warganya.  Seperti yang saya amati, hingga saat ini sarana dan prasarana kehidupan di Raja Ampat masih sangat minim. Listrik untuk penerangan saja harus dibagi, dijatah 3 hari padam dan 2 hari menyala. Malah kadang hanya menyala satu hari dan selebihnya gelap. Hari ini (15 Maret 2012) saya ketahui bahwa pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) mengalami kerusakan sudah 2 minggu. Hanya di kantor pemerintahan dan beberapa rumah yang menggunakan genset sendiri saja yang menyala.
13317972111722939709
Coretan di kalender kantor Badan Pusat Statistik kabupaten
Tempat pengisian bahan bakar/pom bensin pun hanya satu buah, terletak 400meter dari pelabuhan dan pusat kota. Jarak itu ternyata masih harus ditambah dengan kenyataan bahwa pom bensin tersebut hanya  beroperasi sesekali, lebih sering jadi tempat berteduh dari hujan atau panas bagi mereka yang kebetulan lewat. Maka tidak heran pada keadaan normal bensin bisa di jual dengan harga 8.000 rupiah/liter dan melonjak ke 30.000 ribu jika sulit ditemukan.  Akibatnya masyarakat harus begitu cerdik untuk tetap bisa tahan dalam keadaan ini.

1331797018300829804
Pom bensin yang hanya beroperasi sesekali



Belum lagi surat kabar (biasanya hanya ada koran lokal), pada kantor-kantor pemerintah kabupaten mereka terbiasa menerima koran baru edisi telat satu hari. Pengiriman dari kota Sorong memang siang hari tapi sampai Raja Ampat sore atau malam, lalu akhirnya didistribusikan pada keesokan  hari.
13317971341354039287
Koran baru edisi lama
Hm, semoga  ke depan kabupaten Raja Ampat makin sejahtera hingga keindahan wisata yang tidak dapat terlupa itu tidak sia-sia.
13317973151125287327
Menarsiskan diri sejenak hihi..
13317973781491115311
di depan kantor bupati

Hanya Turis Miskin yang Masuk Kabupaten Raja Ampat


Tahukah anda, untuk menuju tempat yang ada di foto di atas  memerlukan 4 drum bahan bakar. Perjalanan pulang pergi menggunakan speed boat  dari pusat pemerintahan kabupaten Raja Ampat ke daerah-daerah kepulauan yang terpisah lautan, lokasi-lokasi wisata yang terkenal itu memerlukan biaya hingga puluhan juta rupiah.  Meski biaya tersebut sebetulnya bisa terasa lebih ringan jika dibagi untuk beberapa wisatawan, karena kapal yang digunakan berkapasitas penumpang lebih dari 20 orang, tetap saja pusat kabupaten Raja Ampat sepi wisatawan.
Beberapa hotel dari berbagai kelas yang ada di sekitar pusat pemerintahan kabupaten Raja Ampat terlihat lengang. “Hanya turis kurang modal dan tersesat saja yang biasanya datang kesini”, demikian kata Yanes satu dari pengelola penginapan yang saya temui.  Menurutnya  sebetulnya banyak turis asing yang masuk wilayah Raja Ampat, lokal maupun mancanegara. Tapi mereka biasanya langsung menuju titik wisata yang tersebar di beberapa pulau utama dan ratusan pulau lain di Raja Ampat. Mereka jarang singgah ke pusat kabupaten.  Hingga penginapan/hotel yang tersedia di sana terlihat tidak semarak. Sebetulnya beberapa pemilik kapal ada yang bekerjasanma dengan pemilik hotel untuk menyediakan kapal murah.
13319469551111770835
Penginapan yang sepi di pusat kabupaten
Para pemandu biasanya langsung mengarahkan wisatawan ke pulau Waigeo, Batanta, Salawati dan Misool.  Atau ke ratusan pulau lain yang memang keindahannya wajib dikunjungi. Beberapa titik kepulauan itu adalah bagian dari ” segi tiga terumbu karang dunia ” (triangel coral) yang meliputi juga pulau di Malaysia, Filipina, Papua  Nugini, Timor Leste dan Australia.  Wilayah ini  memiliki habitat karang laut dan hutan bakau  dengan  keaneka ragaman hayati yang tinggi. Tercatat 537 jenis hewan karang laut, 699 jenis molusca (hewan lunak) dan 1.104 jenis ikan yang hidup di kepulauan raja Ampat.  Hampir separuh jumlah jenis  makhluk laut dunia.
Maka tidaklah mengherankan jika Raja Ampat amat populer di kalangan wisatawan seluruh dunia. Keindahan alamnya jadi fenomena yang selalu mengundang hasrat untuk berkunjung. Tapi pusat pemerintahan kabupaten tetap saja sepi.  Wisatawan yang dibawa berbagai travel agent dari Bali atau Lombok itu menyebar ke distrik-distrik (kecamatan)di kabupaten Raja Ampat.  Ada juga travel agent asing seperti dari Singapura, Thailand dan Malaysia yang membawa tamu-tamu mereka, hingga masyarakat distrik sudah sangat kenal dengan mata uang asing (umumnya USD). Mereka menyewakan rumah-rumah mereka sebagai penginapan dengan kisaran harga 500 ribu-1 juta/24 jam. Harga tersebut biasanya berlaku untuk penyewaan minimal 3 hari, akan lebih mahal jika kurang dari waktu tersebut.
1331947643473668599
Rumah di atas air ini juga disewakan selain yang di atas pasir pantai
Sebenarnya pemerintah pusat kabupaten raja Ampat telah mencoba untuk lebih mengenalkan pusat kabupaten dengan mengadakan festival dan visit Raja Ampat yang biasa dilaksanakan menjelang atau sesudah ulang tahun kabupaten Raja Ampat, pada 9 Mei. Kepanitiaan biasanya adalah dari berbagai dinas setempat.  Festival sendiri berisi pertunjukan budaya yang dipadu dengan perjalanan mengunjungi daerah-daerah wisata Raja Ampat.  Sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat di pusat kapubaten dan memberikan pelayanan terbaik pada wisatawan. Pada kesempatan ini biasanya ditawarkan harga wisata yang lebih murah yakni 250rb-1jt untuk berkeliling untuk 2 hari.
1331947035341264107
Festival tahun lalu
Bagi anda yang berminat berkunjung ke Raja Ampat silakan datang Mei 2012 ini. Siapkan cuti dan tabungan dan nikmati berbagi suguhan budaya khas Raja Ampat dan tentu keindahan alam  bahari,  surga yang ada di dunia itu.
13319470832069037420
Keindahan yang mahal
1331947164146400744
Ikan-ikan ini bukan dipenangkaran, tapi di lautan bebas
13319473221708896669
Pagi hari(saat air surut) pantai Waiwo ini dangkal, hampir 1 km.
1331947511591485429
Hari mulai gelap. Saatnya turis kurang modal pulang bersama nelayan lokal
13319475811945728020
Jangan lupa oleh-oleh buat pacar hehe..

Sejarah Vespa: Kenapa Vespa Bisa Menjadi Kendaraan yang "Tak Ada Matinya?"

Vespa saat keluaran saat ini dinamakan "Mp3" [http://lintasbatas.grou.ps]

Siapapun di Indonesia tentu  sudah tidak asing lagi dengan kendaraan super montok ini. Vespa memang sebuah kendaraan yang sudah di kenal sejak puluhan tahun yang lalu, Hingga saat ini, vespa baik model lama maupun terbaru memang dikenal dan menjadi salah satu kendaraan yang banyak di cari. Baik oleh kolektor atau penggemar vespa biasa (tentu dengan jenis tertentu yang memiliki kelebihan).

Seperti halnya kongo, super sprit dan lain sebagianya. Adalah kendaraan yang banyak dicari dengan harga yang cukup mencengangkan.Terkadang, seseorang bisa membeli vespa yang diinginkannya melebihi apa yang kita bayangkan. 
vespa TAP dulu digunakan untuk perang [http://lintasbatas.grou.ps/]

Bagaimana itu bisa terjadi? Sungguh sebuah prestasi besar, karena ternyata vespa adalah sebuah kendaraan yang terlahir dari perusahaan yang mengalami pailit yang dinyatakan bangkrut. Mungkin ini adalah sebuah imbalan karena sampai saat ini, vespa tetap menjadi sebuah kendaraan yang tidak mati di tengah membeludaknya industri kendaraan roda dua.

Untuk lebih jelasnya mengenai vespa, berikut adalah sebuah ulasan yang merupakan terjemaahaan dari Wide Piaggio Magazine edisi September 2011. 

Perusahaan Piaggio telah berdiri sejak tahun 1884 dilahirkan oleh Rinaldo Piaggio, perusahaan saat itu memproduksi peralatan untuk dunia penerbangan, perkapalan dan kereta api. Waktu berakhirnya perang dunia, perusahaan menghadapi masa sulit dan harus menyesuaikan diri dari perubahan ekonomi dari saat perang dan masuk kepada kebutuhan dunia di masa damai.
 Rinaldo Piagio Pemilik perusahaan pesawat yang bangkrut [http://lintasbatas.grou.ps/]

Saat itulah Enrico Piaggio, anak dari Rinaldo Piaggio, memutuskan untuk memberikan kontribusi dengan menciptakan alat transportasi yang murah, irit bahan bakar yang bisa dikendarai oleh wanita dan pria dengan kondisi jalan yang buruk sekalipun.

Tahun 1944, para engineer Piaggio mulai mendesign protototype yang dinamakan MP5, saat itupun para pekerja sudah memberikan julukan “Paperiono” Donald Duck karena bentuknya. Seorang engineer Piaggio yaitu Corradino D’Ascanio yang sudah bekerja pada Piaggio sejak 1932, kemudian ditugaskan untuk mendesign ulang MP5 supaya menjadi lebih cantik dan cocok di produksi secara masal.
Enrico Piaggio Pencipta Vespa [http://www.vespaclubofscotland.co.uk]


Pada bulan September 1945 D’Ascanio mengeluarkan MP6 dan akhirnya terus diperbaiki hingga April 1946. Saat itu sang boss Piaggio Enrico Piaggio begitu senang dengan prototypenya, ketika mendengarkan suara mesin dan bentuknya yang besar di belakang dan mengecil ditengah dia mengatakan  “Sembra una vespa!” Bentuknya mirip tawon!
Vespa pertama dinamakan MP5  [http://viqidisini.blogspot.com]


Pada 22 April 1946, disain tersebut di patenkan: sebuah motor dengan frame yang menyatu dan melindungi pengendara dan menutupi mesin. Penjualan pada awalnya tidak begitu baik, tapi akhirnya Piaggio memutuskan untuk fokus di scooter dan berhenti dari dunia penerbangan. Akhirnya produksi scooter juga dilanjutkan dengan produksi kendaraan yang sebetulnya untuk komersil seperti Ape (dikenal secara luas di Indonesia dengan Bajaj 3 roda).
Vespa Ape sekarang harganya mencapai ratusan juta rupiah [http://lintasbatas.grou.ps]

Penerimaan dunia pada Vespa awalnya tidak begitu baik, sampai akhirnya pada 1947-1948 dengan Vespa 125, dunia mulai mengenal Vespa secara luas dan sukses secara komersil. 10 tahun setelah muncul yaitu tahun 1956, pabrik di Pontedera mencapai produksi ke sejuta. Hingga kini ada 17 juta lebih Vespa dalam 130 versi di seluruh dunia. Vespa menjadi bintang dalam sejarah transportasi, design, design yang unik dan out of the box memberikan manfaat dan simbol keleluasaan, fashion dan kreativitas

D’Ascanio sebetulnya adalah seorang ahli di dunia pesawat terbang, pencipta protoype pertama helikopter modern. Sebetulnya D’Ascanio tidak menyukai motor, yang saat itu adalah satu-satunya kendaraan roda dua pada waktu itu. Menurutnya motor terlalu besar dan tidak praktis, karena sulitnya mengganti ban dan kotor karena penggunaan rantai.

Karena itu dia mendesign kendaraan yang betul-betul beda, dengan menggunakan frame yang menyatu atau unibody, sebagai hasilnya keluarlah scooter dengan mesin 98 cc, tanpa menggunakan garpu depan tapi swing arm di bagian depan yang memungkinkan ban depan di ganti dengan mudah. Body unibody scooter terbuat dari metal, yang melindungi kaki pengemudi dengan posisi duduk seperti di kursi. (http://arantan.wordpress.com)

Melihat sejarahnya, pantas saja vespa menjadi salah satu kendaraan yang tidak ada matinya. Karena memang vespa telah lahir dari penjuangan yang begitu berat. Mungkin ini menjadi sebuah motivasi bagi kita, ketika mengalami kebangkrutan atau keterpurukan, maka jangan pernah berhenti untuk berusaha membuat inovasi untuk bangkit dan meraih kembali kesuksesan.

Dalam hal ini, seperti halnya Vespa yang telah bangkrut, bisa kembali dengan sesuatu yang baru. Ini adalah sebuah prtestasi yang sangat membanggakan. Inspirasi inilah yang seharusnya ditanamkan untuk kita. Munkin juga bangsa indonesia. Amiiin.
***
Nah yang ini adalah Vespa Admin. hehehe


Cap GO Meh Singkawang [Kalimantan Barat]


Setelah Perayaan Imlek, ada lagi sebuah tradisi warga tionghoa baik tu keturunan maupun warga yang memang lahir dan tinggal di Negeri Tirai Bambu itu. Adalah Singkawang yang merupakan kota berpenduduk warga Tionghoa terbesar di Indonesia biasa menjadi aslah satu ombjek wisata pada saat perayaan Cap Go Meh.

Cap Go Meh melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Tahun Baru Imlek bagi komunitas Tionghoa di seluruh dunia. Istilah ini berasal dari dialek Hokkien dan secara harafiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama (Cap = Sepuluh, Go = Lima, Meh = Malam). Ini berarti, masa perayaan Tahun Baru Imlek berlangsung selama lima belas hari.

Perayaan Lima belas togel di Singkawang biasanya ditandai dengan arak-arakan naga, kilin, barongsai, dan para Tatung berkeliling kota. Tatung adalah orang yang menyediakan dirinya untuk dimasuki oleh salah satu dewa yang dikenal oleh masyarakat Tionghoa. Cap go meh dipercaya sudah dilaksanakan turun temurun sejak 200 tahun yang lalu.
Aura Mistis Cap Go Meh


Para tatung berasal dari berbagai sinmiau (klenteng) yang tersebar di seluruh pelosok kota Singkawang, Sambas, Pemangkat, dan kota-kota atau desa-desa di sekitarnya. Pagi hari di hari ke 15 ini, para Tatung akan berkumpul untuk melakukan sembahyang kepada Langit di altar yang sudah disiapkan.

Perjalanan para Tatung ditandu dengan menggunakan tandu yang beralaskan pedang tajam atau paku tajam, sambil memamerkan kekebalan tubuhnya. Ada juga yang naik tangga pedang, biasanya terdiri dari 36 atau 72 pundak/tangga. Semakin bisa naik ke atas maka artinya semakin kuat juga ilmu Tatung tersebut. Kegiatan ini telah mulai dikembangkan sebagai objek pariwisata untuk menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. (Wikipedia)

Uniknya dalam perayaan Cap Go Meh ini, budaya yang ditampilkan juga sudah di pengaruhi budaya lokal. Sehingga  pakaian, tarian serta alat musik yang dipergunakan banyak yang mirip atau bahkan sama persis dengan pakaian Dayak.
Pakaian menyerupai adat Dayak




Malela: Mini Niagara yang “Masih” Terlantar



Curug Malela. Photo: R-82
Di sebelah Barat Kabupaten Bandung Barat (KBB) 80km dari pusat pemerintahan, terdapat sebuah air terjun yang sekilas mengingatkan pada air terjun yang berada di Kanada Ontario Amerika Serikat yang bernama Niagara.  Namun, air terjun yang berada di Kampung Manglid, Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat (GPS menunjukkan posisi koordinat S07*00’38.1″ E107*12’22.0″)ini ukurannya lebih kecil daripada Niagara.

Adalah air terjun Malela yang biasa disebut Curug Malela, sebuah air terjun dengan pola air terjun berbelok dan tegak lurus dengan relief bebatuan yang terukir secara alami.  Dengan tinggi sekitar 50 meter dan lebar mencapai 70 meter, Curug malela sangat mengagumkan dan cukup berah berlama-lama untuk dilihat.

Sejak tahun 2006, banyak media baik cetak maupun elektronik melansir keindahan curug Malela yang mengagumkan ini. Termasuk Kompas cetak pernah menyoal keberadaan Curug Malela ini pada tahun 2011 lalu. Sejauh ini, wisatawan biasa berdatangan cukup banyak pada hari sabtu dan minggu. dari berbagai daerah yang penasaran dengan keindahannya.

Meski demikian, jika hanya bertujuan untuk melepas lelah di Curug Malela sepertinya bukan pilihan yang tepat. Hal ini disebabkan medan untuk mencapai kesana cukup melelahkan dan jauh dari kesan bersantai saja. Ini terbukti dengan keluhan beberapa wisatawan yang merasa frustasi dengan medan yang ditempuh tersebut.
1327854897964683465
Medan menuju Curug Malela. Photo: R-82
“Aku kapok dan gak akan pernah kesini lagi, jika jalannya belum dibagusin.” Begitulah seperti dikatakan Budi dan kedua rekannya dari sulawesi Utara yang berkunjung ke Curug Malela pada 19 Januari 2012. Budi tertarik ke Curug Malela karena pernah melihat keindahan Curug Malela dari foto Facebook Temannya.

Pada saat ini (Januari 2012) akses yang ditempuh ke Curug Malela menyisakan sekitar 7 km yang pernah diaspal namun kondisinya sangat buruk dan nyaris tidak layak untuk dilalui oleh kendaraan roda empat. Biasanya pengunjung yang datang menggunakan Kendaraan Roda empat memarkir kendaraannya sejauh kurang lebih 4 km dari lokasi. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki atau menggunakan ojek dengan biaya 5 sampai 15 ribu rupiah (tergantung kesepakatan). Pada musim hujan, pengunjung  akan mendapatkan harga ojek yang lebih mahal daripada biasanya, karena kondisi jalan yang licin dan perlu ekstra hati-hati ketika melajukan motornya agar tidak terjatuh.

Perjuangan untuk sampai ke Curug Malela tidak hanya sampai di situ saja. Karena Ojek tersebut tidak sampai ke lokasi. Dari tempat terakhir pemberhentian ojek tersebut pengunjung harus berjalan kaki sekitar 1,5 km dengan waktu tempuh mencapai setengah atau satu jam. Jalanan setapak yang ditempuh, melalui lereng bukit dan pesawahan yang terasa sangat melelahkan.
13278551011548755635
Berjalan kaki menuju lokasi. Photo: R-82
Penunjuk jalan dari Kecamatan Rongga memang sudah tersedia. Meski demikian setelah melalui perkebunan teh Kecamatan Ronga (PTP Nusantara VIII Montaya) pengunjung harus berhati-hati ketika berada di persimpangan, karena disana hanya ada penunjuk arah berukuran sekitar 50 cm x 35 cm  yang dipasang alakadarnya saja (menggunakan papan dan penyangga dari kayu dengan tulisan tangan). Saya sempat berfikir “bagaimana jika penunjuk arah tersebut diputar atau tanpa sengaja terputar sehingga menunjukkan arah yang salah.

Infrastruktur yang buruk tersebut tak jauh dari persoalan klasik: belum adanya investor dan kurangnnya anggaran untuk pengelolaan Curug Malela. Memang hingga saat ini (januari 2012) belum adal loket khusus untuk retribusi. Pengunjung cukup membayar parkir (bagi yang membawa kendaraan) seiklasnya berkisar antara Rp.1.000 hingga Rp.2.000 untuk roda dua, dan mencapai Rp.5.000 untuk kendaraan roda empat.

Disisi lain, rawannya pencemaran di Curug Malela menjadi salah satu permasalahan berikutnya. Dalam hal ini, beberapa sampah plastik sisa pengunjung terlihat berserakan di sekitar lokasi Curug Malela. Selain itu, sampah bawaan dari sungai Cidadap yang sebagai sungai yang melalui Curug malela menjadi salah satu penmyebabnya. Sejauh ini belum terlihat adanya tempat sampah yang disediakan. Sehingga pencemaran (sampah sisa makanan) bisa dipastikan terjadi setiap ada pengunjung yang datang.Semoga saja pemerinta Kabupaten Bandung Barat lebih cepat menepati janjinya, karena sejak tahun 2006 Pemkab Bandung Barat telah berjanji untuk lebih memperhatikan keberadaan Curug Malela di beberapa media cetak dan elektronik.

Meski demikian, saya pribadi yang pernah 3 kali mengunjungi Curug Malela tidak bosan untuk datang. Karena keindahan Curug Malela tidak menjemukan untuk dikunjungi, selain curugnya yang menawan, disekitar perjalanan bisa terlihat pemandangan yang alami dengan pepohonan dan udara yang sejuk dan menenangkan. Sehingga walaupun medan yang ditempuh sangat berat, saya tetapa akan berkunjung kesana lagi jika memiliki kerinduan kesempatan untuk mendatanginya. Niscaya semua medan berat yang ditempuh itu akan sirna ketika berhadapan dengan Curug Malela yang mengagumkan.
13278553471209091926
Pemandangan di Perjalanan. Photo: R-82
***
1327855545885001639
Pemandangan menuju Curug malela. Photo:R-82
***
Budi pengunjung dari Sulawesi utara, Photo: R-82
Budi pengunjung dari Sulawesi Utara. Photo: R-82
***

Si Tomboy (vespa hitam orange) tetap cantik meski jalanan becek. Photo:R-82


Malela: Mini Niagara yang Bukan Miniatur



Curug Malela

MENJELAJAH Cekungan Bandung dengan gunung-gunung di sekelilingnya memang tidak ada habis-habisnya. Satu objek terkunjungi, objek lain sudah gugupay mengundang untuk datang. Banyak lokasi wisata air terjun di sekitar Bandung sudah dikunjungi dan Curug Malela mengundang kepenasaran untuk menyambanginya.

Di sebelah Barat Kabupaten Bandung Barat, terdapat sebuah air terjun yang sekilas mengingatkan pada air terjun yang berada di Kanada Ontario Amerika Serikat yang bernama Niagara.  Namun, air terjun yang berada di Kampung Manglid, Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat (GPS menunjukkan posisi koordinat S07*00’38.1″ E107*12’22.0″) ini ukurannya lebih kecil daripada Niagara.

Adalah air terjun Malela yang biasa disebut Curug Malela, sebuah air terjun dengan pola berbelok tegak lurus dengan relief bebatuan yang terukir secara alami.  Dengan tinggi sekitar 50 meter dan lebar mencapai 70 meter, Curug malela sangat mengagumkan dan cukup berah berlama-lama untuk dilihat.

Suatu keniscayaan bagi sungai yang mengalir di atas plateau untuk kemudian pola alirannya terganggu oleh air terjun yang bertingkat-tingkat. Itulah yang terjadi pada aliran Cicurug. Selain Curug Malela yang terbesar, ke arah hilir terdapat beberapa tingkat air terjun yang dinamakan Curug Katumiri dan Curug Ngebul, sebelum sungai ini bermuara ke Cisokan.

Sejak tahun 2006, banyak media baik cetak maupun elektronik melansir keindahan curug Malela yang mengagumkan ini. Termasuk Kompas cetak pernah menyoal keberadaan Curug Malela ini pada tahun 2011 lalu. Sejauh ini, wisatawan biasa berdatangan cukup banyak pada hari sabtu dan minggu. dari berbagai daerah yang penasaran dengan keindahannya.

Hanya ekspresi decak kagum yang bisa diutarakan begitu mata memandang air terjun yang menjulang tinggi. Gemuruh airnya terselip di rimbun pepohonan di perbukitan ujung barat Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Pesonanya sudah menyapa bahkan saat wisatawan menuruni lereng gunung padahal masih berjarak kurang dari 1 kilometer. Di tengah hamparan pepohonan menghijau, terselip curug, atau air terjun dalam bahasa Sunda, yang airnya terus mengalir berkelok mengikuti sungai.
Pemandangan sebelum sampai di lokasi 


Berwisata di Poso yang Berkesan


Sisa sisa pembakaran tempat beribadah memang suatu pamandangan yang kerap di temui sepanjang jalan perjalanan tentena menuju ke pusat kota kabupaten poso, selain itu beberapa sekolah, kebun yang citumbuhi rumput liar seta rumah penduduk yang sepertinya telah ditinggalkan dan tak pernah dibersihkan selama beberapa tahun semakin melengkapi kesan “disini pernah terjadi sesuatu”.

Untuk beberapa saat saya cukup miris melihat keadaan itu, Gereja-gereja atau tepatnya sisa sisa geraja yang sepertinya dulu besar sekali, begitupun reruntuhan Mesjid itu ketika kulihat sempat melintas dibayanganku, seperti apa dulu kejadiannya.


Beberapa bulan yang lalu saya sempat melihat rekaman video kerusuhan di Poso, terlepas benar atau tidak rekaman kejadian tersebut, aku yang melihat keadaan di Poso secara langsung, dan ini adalah keadaan beberapa tahun pasca kerusuhan meyakini, video itu benar adanya, seperti apa yang kubayangkan sebelumnya.

Sore menjelang malam, sekitar 2 Km perjalanku menuju pusat kota kabupaten Poso di hadang 2 orang pribumi, yang satu berperawakan tinggi besar  dengan 2 tanda hitam di jidatnya, dan yang satu adalah istrinya.

1293354481211108124
Pantai Imbo
Keramahan pak Samsuri dan istrinya meredakan keteganganku akan semua pemandangan yang kulihat sepanjang jalan. Pak samsuri yang sebelumnya hanya aku kenal suaranya saja, kini bisa bertatap muka mengajakku kerumahnya dan berencana malam ini mengajakku pergi, “menikmati indahnya pantai Imbo”
pisang goreng yang dimakan dengan sambal, memang cukup asing di lidahku sebagai orang Sunda, awalnya cukup susah beradaptasi, namun tanpa menunggu beberpa gigitan semuanya terasa enak, lengkap dengan  Saraba sebagai minumannya, sejenis Bajigur lah kalo di jawa barat


Seminggu di Poso cukup membuatku berkesan, aku yang pernah singgah  di danau toba, merasakan dinginnya tangkuban perahu dan teriknya alam tropis pontianak kini sangat berkesan disini, sungguh sangat berkesan. “Poso”

Kesanku disini bukan hanya sekedar menikmati Indahnya Pantai Imbo, hangatnya mentari di pantai modale, menariknya suasana air terjun  Saluopa, atau tenangnya danau Poso, kesanku disini adalah akan begitu banyak kisah yang Pak samsuri ceritakan kepadaku


Dalam perjalananku dari kabupaten Poso menuju Kabupaten Parigi Moutong, aku teringat akan cerita Pak Samsuri sebelum terjadi kerusuhan, Poso memang sebuah keluarga, saudara, teman, sahabat antara satu dengan yang laiinya, walaupun berbeda agama, dan agama itulah yang diusung dalam pertikaian tersebut, hingga orang yang kenal maupun tidak, saling membunuh, membantai lebih tepatnya.


Saat aku melihat sebuah Masjid yang mungil diantara gereja dan pemukiman yang sepertinya adalah lingkungan bukan non muslim aku baru membenarkan omongan pak samsuri kemari. menurutnya profokasi yang membuat kerusuhan dulu terjadi, karena selama ini kerukunan antar umat beragama sangat Mereka jaga bersama, dan itu terbukti, banyak beberpa gereja diantara Masjid atau lingkungan muslim yang masih utuh hingga sekarang, begitupun sebaliknya.”Tibo cs itu bukan orang Poso, sama halnya dengan para mujahid”.


Menurut cerita warga Poso termasuk  Pak Samsuri malam itu selepas menyantap Ikan bakar di Pantai Imbo, “bagaimana tidak bisa dikatakan rukun dan saling mengenal kami ini, sedangkan ketika ada acara pernikahan aja ada batas pemisah, yang satu untuk muslim dan satunya untuk non muslim, maksudnya supaya makanan, dan segala peralatannya terpisah, takutnya ada makanan yang tidak bisa di konsumsi oleh salah satu penganut ajaran Agama”


Menurut mereka, dulu kalau bertanya seseorang tidak perlu menyebutkan alamatnya cukup nama lengkapnya, keluarganya, kendaraannya atau pekerjaannya, pasti ada yang tau.
Memang keakraban Pak Samsuri sekeluarga dengan temannya semua waktu di pantai Imbo adalah cermin kekeluargaan Poso tempo dulu, Pak samsuri Sebagai tokoh muslim dan temannya yang Pendeta itu tak terlihat ada perbedaan, kecurigaan apalagi kebencian, sungguh menyenangkan, mengesankan.


Sampai saat ini aku masih belum mengerti kenapa bisa terjadi tragedi itu.
“Selamat Tinggal Poso”, ucapku di perbatasan
Selamat meraih kembali kekeluargaan dan keakraban seperti sebelumnya.
.