Home » » Berwisata di Poso yang Berkesan

Berwisata di Poso yang Berkesan


Sisa sisa pembakaran tempat beribadah memang suatu pamandangan yang kerap di temui sepanjang jalan perjalanan tentena menuju ke pusat kota kabupaten poso, selain itu beberapa sekolah, kebun yang citumbuhi rumput liar seta rumah penduduk yang sepertinya telah ditinggalkan dan tak pernah dibersihkan selama beberapa tahun semakin melengkapi kesan “disini pernah terjadi sesuatu”.

Untuk beberapa saat saya cukup miris melihat keadaan itu, Gereja-gereja atau tepatnya sisa sisa geraja yang sepertinya dulu besar sekali, begitupun reruntuhan Mesjid itu ketika kulihat sempat melintas dibayanganku, seperti apa dulu kejadiannya.


Beberapa bulan yang lalu saya sempat melihat rekaman video kerusuhan di Poso, terlepas benar atau tidak rekaman kejadian tersebut, aku yang melihat keadaan di Poso secara langsung, dan ini adalah keadaan beberapa tahun pasca kerusuhan meyakini, video itu benar adanya, seperti apa yang kubayangkan sebelumnya.

Sore menjelang malam, sekitar 2 Km perjalanku menuju pusat kota kabupaten Poso di hadang 2 orang pribumi, yang satu berperawakan tinggi besar  dengan 2 tanda hitam di jidatnya, dan yang satu adalah istrinya.

1293354481211108124
Pantai Imbo
Keramahan pak Samsuri dan istrinya meredakan keteganganku akan semua pemandangan yang kulihat sepanjang jalan. Pak samsuri yang sebelumnya hanya aku kenal suaranya saja, kini bisa bertatap muka mengajakku kerumahnya dan berencana malam ini mengajakku pergi, “menikmati indahnya pantai Imbo”
pisang goreng yang dimakan dengan sambal, memang cukup asing di lidahku sebagai orang Sunda, awalnya cukup susah beradaptasi, namun tanpa menunggu beberpa gigitan semuanya terasa enak, lengkap dengan  Saraba sebagai minumannya, sejenis Bajigur lah kalo di jawa barat


Seminggu di Poso cukup membuatku berkesan, aku yang pernah singgah  di danau toba, merasakan dinginnya tangkuban perahu dan teriknya alam tropis pontianak kini sangat berkesan disini, sungguh sangat berkesan. “Poso”

Kesanku disini bukan hanya sekedar menikmati Indahnya Pantai Imbo, hangatnya mentari di pantai modale, menariknya suasana air terjun  Saluopa, atau tenangnya danau Poso, kesanku disini adalah akan begitu banyak kisah yang Pak samsuri ceritakan kepadaku


Dalam perjalananku dari kabupaten Poso menuju Kabupaten Parigi Moutong, aku teringat akan cerita Pak Samsuri sebelum terjadi kerusuhan, Poso memang sebuah keluarga, saudara, teman, sahabat antara satu dengan yang laiinya, walaupun berbeda agama, dan agama itulah yang diusung dalam pertikaian tersebut, hingga orang yang kenal maupun tidak, saling membunuh, membantai lebih tepatnya.


Saat aku melihat sebuah Masjid yang mungil diantara gereja dan pemukiman yang sepertinya adalah lingkungan bukan non muslim aku baru membenarkan omongan pak samsuri kemari. menurutnya profokasi yang membuat kerusuhan dulu terjadi, karena selama ini kerukunan antar umat beragama sangat Mereka jaga bersama, dan itu terbukti, banyak beberpa gereja diantara Masjid atau lingkungan muslim yang masih utuh hingga sekarang, begitupun sebaliknya.”Tibo cs itu bukan orang Poso, sama halnya dengan para mujahid”.


Menurut cerita warga Poso termasuk  Pak Samsuri malam itu selepas menyantap Ikan bakar di Pantai Imbo, “bagaimana tidak bisa dikatakan rukun dan saling mengenal kami ini, sedangkan ketika ada acara pernikahan aja ada batas pemisah, yang satu untuk muslim dan satunya untuk non muslim, maksudnya supaya makanan, dan segala peralatannya terpisah, takutnya ada makanan yang tidak bisa di konsumsi oleh salah satu penganut ajaran Agama”


Menurut mereka, dulu kalau bertanya seseorang tidak perlu menyebutkan alamatnya cukup nama lengkapnya, keluarganya, kendaraannya atau pekerjaannya, pasti ada yang tau.
Memang keakraban Pak Samsuri sekeluarga dengan temannya semua waktu di pantai Imbo adalah cermin kekeluargaan Poso tempo dulu, Pak samsuri Sebagai tokoh muslim dan temannya yang Pendeta itu tak terlihat ada perbedaan, kecurigaan apalagi kebencian, sungguh menyenangkan, mengesankan.


Sampai saat ini aku masih belum mengerti kenapa bisa terjadi tragedi itu.
“Selamat Tinggal Poso”, ucapku di perbatasan
Selamat meraih kembali kekeluargaan dan keakraban seperti sebelumnya.

2 comments:

  1. Terimaksih atas infonya,menarik dan menambah wawasan

    ReplyDelete
  2. artikel di blog ini sangat menarik dan bagus
    terimakasih gan

    ReplyDelete

Silahkan berkomentar dengan sopan dan tidak Spam.... kalau tidak punya akun blogger silahkan pilih Name / URL isikan nama dan email juga bisa, atau kosongkan URL. Mohon maaf Live Link, langsung akan saya hapus.

.